Tools ‹ SELAYANG PANDANG — WordPress

Tools ‹ SELAYANG PANDANG — WordPress.

METODOLOGI PENELITIAN ANAK JALANAN (ANJAL) DI PROPINSI BENGKULU

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah sosial atau kesejahteraan sosial selalu berada dalam kelompok masyarakat manapun juga dan tidak akan ada habisnya, termasuk di Propinsi Bengkulu. Dinas kesejahteraan sosial propinsi Bengkulu sebagai institusi di bawah naungan pemerintah daerah provinsi Bengkulu yang mempunyai tugas dan fungsi menangani permasalahan kesejahteraan sosial.setidaknya menghadapi Penyandang masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebanyak 26 jenis (Dinkesos : 2007)

Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena sesuatu hambatan, kesulitan atau gangguan sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya (Jasmani, Rohani & Sosial) secara memadai dan wajar. Hambatan dan kesulitan tersebut dapat berbentuk kemiskinan keterlantaran, kecacatan, ketunasusilaan, keterbelakangan, keserasian, dan perubahan lingkungan secara mendadak seperti terjadinya bencana alam.

Satu diantara 26 jenis masalah sosial tersebut adalah penanganan anak jalanan Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Propinsi Bengkulu tahun 2007, tercatat sebanyak 435 orang adalah anak jalanan. Adapun jumlah anak terlantar menduduki posisi terbanyak sebanyak 20.904 yang jika dibiarkan justru akan berpotensi menjadi anak jalanan

PROFIL PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA SOSIAL DI 15 KECAMATAN DALAM 7 KABUPATEN PROVINSI BENGKULU TAHUN 2006

Gambaran Umum Profil Pemetaan Bencana Sosial Di Provinsi Bengkulu

Pada tahun-tahun terakhir, sejarah berbagai komunitas penuh dengan nuansa konflik tidak hanya terjadi di dalam suatu komunitas, tetapi juga antar komunitas baik konflik yang bersifat vertikal maupun konflik horizontal, bahkan sampai pada konflik yang disertai kekerasan. Bencana sosial menurut Departemen Sosial RI adalah Suatu kondisi atau situasi yang disebababkan oleh perbuatan manusia yang bersifat mendadak maupun terjadi secara berangsur-angsur yang menyebabkan kekacauan dan kerugian secara meluas terhadap kehidupan, materi serta lingkungan. Karakteristik bencana sosial ditandai oleh: (1) Adanya kerugian/kerusakan pola kehidupan normal yang cukup parah, (2) timbulnya penderitaan manusia baik kematian, luka-luka, cacat dan kesengsaraan, serta trauma psikologis pada masyarakat dan (3) timbulnya kerusakan pada tatanan pemerintahan, bangunan dan berbagai sarana pelayanan umum lainnya, (4) Korban bencana yang dimaksudkan adalah seseorang kelompok ataupun komunitas masyarakat yang menderita akibat terjadinya bencana sosial.

Berbicara tentang bencana sosial maka tidak lepas dari konflik sosial, karena salah satu indikator bencana sosial adalah berupa konflik sosial. Oleh karena itu menurut Fisher dkk dalam Prasodjo N. W dan Tony I.Y bahwa “konflik merupakan suatu benturan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang disebabkan adanya perbedaaan nilai, status, kekuasaan dan kelangkaan sumber daya”. Continue reading

CARA MENULIS KUTIPAN DAN SUMBER KUTIPAN

A. Aturan untuk kutipan ≤ 3 baris.

  • Kutipan Langsung ( Dikutip Langsung Dari Penulis) Ditulis Dengan Menggunakan “Dua Tanda Petik” Dan Penulisannya Digabung Dalam Paragraf Yang Ditulis Dengan Jarak 2 Spasi.
  • Kutipan Tidak Langsung ( Dikutip Dari Kutipan ) Ditulis Dengan Menggunakan “Satu Tanda Petik” Dan Penulisannya Digabung Dalam Paragraf Yang Ditulis Dengan Jarak 2 Spasi. Continue reading

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)

SISTEM PERINGATAN DINI

DALAM SIKLUS MANAJEMEN PENANGGULANGAN

BENCANA

1. Pengertian Sistem Peringatan Dini

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) merupakan serangkaian sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain sebagainya. Namun demikian menyembunyikan sirine hanyalah bagian dari bentuk penyampaian informasi yang perlu dilakukan karena tidak ada cara lain yang lebih cepat untuk mengantarkan informasi ke masyarakat. Harapannya adalah agar masyarakat dapat merespon informasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi dengan saat (dugaan) datangnya bencana. Kondisi kritis, waktu sempit, bencana besar dan penyelamatan penduduk merupakan faktor-faktor yang membutuhkan peringatan dini. Semakin dini informasi yang disampaikan, semakin longgar waktu bagi penduduk untuk meresponnya. Continue reading

MITIGASI DAN ANALISIS RISIKO BENCANA

MITIGASI DAN ANALISIS RISIKO BENCANA

Mitigasi merupakan salah satu komponen dalam penanggulangan bencana, yang tujuannya untuk mengurangi korban, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Setiap saat manusia tidak lepas terhadap risiko sehingga pemahaman terhadap risiko terhadap bencana diperlukan sebagai dasar untuk penanggulangan bencana. Mitigasi bencana perlu didasarkan oleh macam dan penyebab bencana, sehingga upaya yang harus dilakukan harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Penilaian risiko bencana dan penyajiannnya dalam bentuk data spasial memerlukan kompetensi tertentu untuk menghasilkan peta risiko yang akurat.

Ada tiga pengertaian mitigasi sebagai berikut.

(1) Mitigasi (penjinakan) adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan untuk mengurangai dan memperkecil akibat-akibat yang ditimbulkan oleh bencana, yang meliputi kesiapsiagaan serta penyiapan kesiapan fisik, kewaspadaan dan kemampuan (Depdagri, 2003); (2) Mitigasi adalah tindakan-tindakan untuk mengurangi atau meminimalkan dampak dari suatu bencana terhadap masyarakat (DKP, 2004); (3) Mitigasi (penjinakan): upaya atau kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari bencana alam atau buatan manusia bagi bangsa atau masyarakat (Carter, 1992). Continue reading